Make your own free website on Tripod.com

 
@PERTEMUAN DO'A@

Azmi terus melangkah menuju kamarnya. langkahnya lemah dan gontai.
Tumpukkan pakaian kotor, buku yang berserakan di atas meja, ranjang yang
acak-acakan, sampah-sampah kecil yang bertaburan di lantai, makin membuatnya jengkel.
Setelah meletakkan tas dan melepaskan pakaian, ia menyalakan kipas angin,
lalu menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Ia mendengus panjang.
Nyaris tak ditemukannya lagi alasan untuk tidak memikirkan Nadia, gadis
yang menjadi tetangganya.
Sebenarnya telah banyak yang dibuat Azmi untuk tidak memikirkan Nadia.
Tapi sekali ini ia gagal. Kegiatan-kegiatan ibdah-ibadah tidak lagi
memberikan kehangatan jiwa seperti biasa. Kesadaran tentang cita yang
tinggi yang sering dipatrikannya dalam jiwanya, terasa lemah tanpa daya.
Azmi kembali mendengus panjang kelu hatinya. Wajah Nadia terus memenuhi
pikiran dan hatinya. Apakah yang istimewa dari seorang mahasiswa seperti
Nadia? Jawaban dari pertanyaan inilah yang senantiasa mengundahkan hati Azmi.
Sebenarnya wajah Nadia tidak terlalu cantik. Postur tubuhnya pun
sedang-sedang saja. Tapi gerakan-gerakan fisiknya secara keseluruhan
menampilkan suatu keserasian yang menawan.
Lima tahun melewati perjuangan berat meninggalkan lumpur jahiliyah, Azmi
seharusnya sudah cukup kokoh. Pesona Nadia semestinya tidak perlu
mengguncang iman dan kesadarannya. Namun, pesona itu tidak hadir sendiri.
Sebab kedua bola mata Nadia yang teduh telah melahirkan sebuah rekaman
dalam masa lalu di benak Azmi, mengingatkan sebuah nama yang pernah singgah
di hatinya.
Kembali Azmi mendengus panjang. Ia bangkit. Oh tidak, aku bukan pemuda
melankolik yang dapat dijajah oleh masa lalu. masa lalu adalah masa lalu.
Ia boleh hadir, tapi tidak untuk menjajah kekinian. Tapi Nadia telah
memasuki jiwanya terlalu dalam. Mereka memang belum pernah berbicara
berdua, tapi hati mereka telah berbicara begitu banyak lewat mata. Dan
sorotan mata, mungkin bahkan lebih tegas dari sedekar kata. Dan Azmi kini
menyadari, betapa begitu piawai Nadia berbahasa dengan sorotan mata, dan
alangkah lincahnya ia membawa Azmi ke dunia lain dengan bahasa ini.
Azmi serasa ingin menyerah. Ia tidak sanggup lagi didera oleh
desakan-desakan di dalam hatinya. Hanya ada satu hal yang masih
membingungkannya. Bagaimana ia berhubungan dengan Nadia? Haruskah ia
mengawaininya? Atau hanya pacaran?
Pilihan pertama bagi Azmi terlalu sulit. Ia tidak mungkin mengawani Nadia
yang tidak berjilbab, apalagi terbina. Dan jika itu sampai terjadi? Oh,
kiamat sudah.
Pilihan kedua mungkin lebih mudah. Tapi ia harus berani jadi munafik,
karena harus dirahasiakan dari teman-temannya, atau ia harus memisahkan
diri dari mereka.
Mungkin ada jalan lain yang lebih menengah. Ia pacaran dengan Nadia,
sambil mentarbiyahnya, baru mengawnininya. Masuk akal sekali karena dapat
memenuhi tuntutan keremajaannya sekaligus tuntutan keyakinannya. Azmi sudah
ingin memutuskan menempuh jalan ini, tapi tiba-tiba ia menyadari bahwa ini
pun adalah logika setan yang berbuntut bahwa ia harus menjadi munafik.
Jalan ketiga ini telah banyak ditempuh oleh teman-temannya. Tapi akhirnya
sama saja: kalau bukan pacarnya yang munafik dengan berjilbab untuk
menyenangkan pacar, maka dialah yang munafik karena memakai kedok agama
untuk memenuhi tuntutan setannya.
"Tidak. Saya tidak ingin munafik", Azmi membatin."Lalu bagaimana?", ia
kembali bertanya. Ah, jalan seperti tak ada ujung. Azmi masih tetap didera
oleh kebingungan itu, sampai akhirnya ia terlelap dibawa mimpi yang tak
pasti. Mimpi yang buruk. Nafasnya hampir habis. Ia terengah-engah.
tiba-tiba ia terjaga.
Tidak ada sesuatu, hanya gelap. "Astaghfirullah". Azmi lantas menyalakan
lampu. jam menunjukkan pukul tiga dinihari. Ia masuk ke kamar mandi,
beruwdhu, lalu sholat.
Dan semuanya hilang. hanya ada terasa embun yang menetes di hatinya.
Sejuk, damai. azmi masih tetap duduk di atas sajadahnya. Ia menerawang
jauh, jauh sampai di langit hatinya.
Saat itu ia merasakan betapa jernih dan bening hatinya. Saat-saat begini
adalah saat yang indah, yang menawarkan ribuan kesejukan bagi batin yang
papa, ribuan ketenangan bagi hati yang resah, dan ribuan kedamaian bagi
jiwa yang bimbang dan merana. Azmi merasakan semua itu. Ia kembali
menemukan dan merasakan kehangatan ibadahnya. Mendapatkan kekuatan hati dan
ketegaran batin. Kini Azmi dapat melihat dengan mata hatinya betapa
kerdilnya pesona Nadia, dan betapa agung arti dari sebuah keteguhan iman.
Ah, mengapa aku tidak mendapatkan suasana jiwa seperti ini setiap saat?
Kini, jalan keluar telah didapatnya. Ia harus pindah rumah, dan menjauh
dari gadis tetangganya itu
"Ceria banget Mi pagi ini", kata bi Rima membuka percakapan ketika sarapan
pagi. Azmi hanya senyum-senyum. "Sedang jatuh cina ya?, lanjut sang bibi
dalam nada tanya canda. "Ah nggak kok, biasa aja", jawab Azmi sekenanya.
"Kak Azmi sudah punya pacar ya?, Rina putri bi Rima yang baru duduk di
bangku kelas tiga SMP, ikut nimbrung.
"Lho, emang ada apa sih, pake keroyokan segala?", jawab Azmi sedikit
heran. "Apa mereka tahu masalah Nadia?", tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba bi Rima meninggalkan meja makan, lalu kembali dengan membawa
sepucuk surat. "Ini buktinya", kata bi Rima sambil memberikan surat itu.
"Tadi pagi Nadia lewat di depan rumah dan menyerahkan surat ini".
"Inna lillahi", Azmi berujar dalam hati
Ia masih kelihatan bingung. "Lho, dapat surat ko malah bingung", bi Rima
heran. Ia sebenarnya tahu kalau Azmi orangnya soleh dan serius. Tapi yang
memebuatnya heran, Nadia terlalu anggun untuk tidak membuatnya gembira.
Ketika kembali kekamarnya, Azmi mencoba membuka surat itu.
"Kak Azmi yang baik, mungkin satu surat ini bentuk kelancangan yang
sebenarnya memalukan. Mungkin juga kuno. Tapi begitulah, hanya jalan ini
yang bisa kutempuh. Saya tidak menemukan jalan untuk dapat berbicara dengan
kak Azmi".
Kak Azmi, Nadia percaya kalau kak Azmi dapat memahami hal ini. Nadia juga
percaya kalau kak Azmi tentu sudah dapat menduga apa yang ingin kukatakan.
Mungkin salah jika Nadia mengatakan bahwa hal itu juga kak Azmi rasakan.
Jika mata kita sebuah jendela hati, maka ia telah begitu banyak berbicara.
Kak Azmi, belumkah tiba saatnya kita berterus terang?

salam manis untuk kak Azmi
Nadia

Azmi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ah datang lagi", ia mengeluh. "Ini
cinta bener atau setan betul?, gumannya lagi. Sejenak ia trepaku. "Tidak.
Ini tidak boleh terjadi. Saya harus segera pindah dari sini. setan di sini
makin lama makin besar dan sulit untuk dilawan", katanya mengambil keputusan.
Setelah Azmi, menjelaskann panjang lebar dan terus terang, akhirnya bi
Rima meluluskan keinginannya.
Di tempat barunya, Azmi merasa lebih tenang. Ketenangan yang merupakan
buah kemenangan iman atas panggilan pesona dunia. Setiap kali iman menang,
setiap kalinya ia mendapatkan ketenangan lebih banyak.
Ah, Azmi tersenyum haru di depan ayat-ayat AL-Qur'an yang dibacanya.
Barangkali memang benar, pengetahuan-pengetahuan begini hanya dapat di raih
dengan akal batin yang selalu diasah dengan taqwa. Bukan dari buku-buku,
tapi pada pengalaman manusiawi dalam beriman.
Sejenak ia teringat kembali Nadia, wajah yang menyimpan ribuan pesona,
yang telah memporak-porandakan dalam sejenak keseimbangan imannya. Oh,
semoga Allah berkenan menunjukkinya. Saat-saat ketika ia latur dalam pesona
Nadia, adalah saat dimana ia bersahabat dengan keluh dan gelisah. Ia adalah
jenak-jenak dalam kehidupan yang begitu manusiawi, dimana ia lengah dan
lemah, dan seketika pesona bumi menariknya ke lumpur dunia, setelah ia
mendaki tangga iman menuju langit ketinggian.
Pelan-pelan dua butir mutiara bergulir di celah-celah matanya. Ia terharu.
Ia bersyukur. yah, sesungguhnya di dalam keteguhan iaman, Allah menyimpan
ribuan kesejukan dan kedamaian bagi jiwa manusia.
Di luar kamarnya Azmi mendengar Iwan memanggilnya. "Azmi! Waktu makan
telah tiba", kata Iwan sok resmi.
Suasana makan malam itu memang seru. Maklum, majelis para bujang. Mereka
semua baru di tahun kedua, kecuali Iwan yang sebentar lagi selesai. Suasana
jadi makin greget tatkala Iwan sekonyong-konyong nyeletuk:
"Baiklah, sekarang kuberitahukan buat antum semua. Tadi soe saya baru saja
melamar seorang ukhti. Dan alhamdulillah, diterima. Akad nikah dan walimah,
Insya Allah akan dilangsungkan bulan depan, tepatnya setelah seluruh
tentamen saya selesai. Lulus atau tidak, pernikahan akan tetap dilangsungkan".
Allahu Akbar. Tawa mereka pun meledak. Kemudian serempak berdiri untuk
menyalami Iwan.
Akhirnya Iwan melangsungkan pernikahan, dan dinyatakan alumni dari rumah
kontrakan, karena segera akan tinggal di rumah dinas sebagai suami di PMI
(Pondok Mertua Indah).
Waktu berlalu mengikuti sunnah Ilahi. Ia adalah jalan panjang kehidupan,
dan manusia tidak lebih dari musafir-musafir yang hadir bersama kereta
peristiwa.
Tak terasa empat tahun berlalu, kini Azmi telah selesaikan studinya. Ia
ingat bibinya yang tak pernah berkunjung ditengoknya. Dan ingin bersegera
bersama.
Rupanya Azmi terlambat mengetahui kalau segalanya telah berubah. rumah
bibinya kelihatan lebih asri dan sejuk. Tak ada lagi suara musik yang
bising. Papan catur di rak lemari kini digantikan Al-Qur'an ukuran besar.
Lebih dari itu, seluruh wanita penghuni rumah ini juga telah berjilbab. Di
tengah keheranannya, serombongan ahwat keluar dari kamar Rina. Dan, ada
seraut wajah yang dikenalnya betul. Yaitu wajah anggun yang pernah
mengguncangkan hatinya begitu hebat. Nadia.
Darahnya terkesiap. Allahu Akbar. Siapa yang menyangka kalau semua ini
akan terjadi? Allahu Akbar. Begitu cepat hanya itu yang bisa diucapkan Azmi
dalam hatinya.
Karena suasana itu Azmi sampai menginap di rumah bibinya. Hari-hari itu
penuh haru biru. Ada keakraban yang lain. ada kedekatan yang khas, dalam
ikatan tali Allah.
Semua cerita lama diungkit lagi. Dan semua terasa manis. Karena ada
perubahan, ada dua masa, ada rahmat Ilahi. Azmi kini mengetahui mengapa
perubahan ini terjadi.
Azmi telah berada di tengah-tengah sobatnya kembali. Mereka, seperti
biasanya, asyik saling cerita, tukar pengalaman dan informasi.
Setelah mendehem beberapa kali, dengan tenag Azmi mengatakan,"Saya baru
melamar seorang ukhti, dan alhamdulillah, diterima.(Semua bilang Allahu
Akbar). Dan untuk diketahui bahwa ukhti itu adalah Nadia.(Allahu akbar,
semua serempak). Dan tentu saja antum diharap berpartisipasi dalam do'a dan
kepanitiaan (semua bilang siap). Maklumat selesai".
Semua tersenyum. Juga tertawa. semua menyalami dan memeluk Azmi. "Selamat.
Antum rupanya engineer kedua setelah Iwan", kata Yandi. "Ini skenario Allah
akhi", Dede yang menjawab.
Nadia masih menatap suaminya tajam-tajam dalam-dalam. Yang tertatap jadi
terheran-heran kaku kikik.
Untuk apa kau tulis cerpen ini Abi? Sambil menunjukkan majalah itu Nadia
terus menatap suaminya tajam-tajam dalam-dalam. Tapi kini ia tersenyum.
Yang ditatap ikut tersenyum. "Kado khusus buat istriku Nadia, atas
kelahiran putra pertama, Faris". Nadia tersenyum geli. Langsung saja
dipencetnya hidung suaminya. Sebentar kemudian ia diam. Lalu, "Ada yang
lupa Abi sebut", katanya.
"Apa itu?", Azmi penasaran. Nadia sejenak terdiam.
"Begini, setelah bi Rima menceritakan sebab kepindahanmu dari rumahnya,
aku betul-betul merasa terpukul. Aku kalah. Sempat aku frustasi. Tapi aku
mencoba membaca buku-buku keislaman. Dan Allah rupanya Maha Pemurah, karena
Dia berkenan merubah jalan pikiranku. Dan berkat hidayah Allah pula seisi
rumah bi Rima juga berubah. Saya sungguh mengagumi ketegaran imanmu dan
berharap agar Allah dapat memberi saya ketegaran yang sama. Sejak saat itu,
rumah bi Rima jadi tempat pengajian kami bersama beberapa akhwat. Dan
tepatnya di kamar Abi karena hanya itu yang kososng. Setiap kali saya
berada di kamar itu, selalu ada nuansa lain yang kurasakan. Ada keharuan
tertentu yang merasuki hatiku. Dan diam-diam saya selalu berdo'a", Nadia
berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca.
Ia melanjutkan lagi, "Ya Allah jangan biarkan aku mati sebelum sempat
membalas jasa kak Azmi atas keteguhan imannya, keteguhan yang telah
mengetuk pintu hatiku untuk bertaubat dan berislam secara benar". Air
matanya gugur. Ia tak sanggup menahannya. Ia ingin menghapusnya, tapi Azmi
mencegahnya. "Biarkan ia tumpah", kata Azmi. "Dan", Nadia melanjutkan lagi,
"Doa itu dikabulkan Allah, bahwa saya diperkenankan menjadi istri Azmi Abi
Faris".
Azmi terharu. "Sebenarnya", katanya "sejak pindah itu, diam-diam saya juga
sering berdo'a, semoga Allah berkenan memberi petunjuk bagi Nadia". Azmi
berhenti sejenak. Matanya berkaca-kaca. Lalu air matanya gugur. Ia ingin
menghapusnya, tapi Nadia mencegahnya"Biarlah ia tumpah", katanya.
"Tapi rupanya Allah memberi saya lebih dari apa yang kuminta. Ialah yang
berkenan menjadikan saya sebagai suami bagi Nadia Ummu Faris".
Mereka menangis. Mereka tersenyum. Ada haru. Ada bahagia. Sebab dua do'a
yang diperetemukan oleh Allah dengan teramat halus. Sangat teramat halus,
karena ia tulus, maka ia kudus. Allah Akbar.

Jakarta, 4 Mei 1991


Sumber: Sabili, No. 11/Th. IV Rajab 1412H.