Make your own free website on Tripod.com

Peran Komunikasi (Suami-Istri) dalam Membina Keluarga Sakinah

Mukadimah

Jika ada surga di dunia , maka itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi jika ada neraka di dunia itulah rumah tangga yang penuh pertengkaran. Semua pasangan yang menikah tentu mengidamkan keluarga sakinah yang dikaruniai Allah SWT mawaddah dan rahmah. Maka merealisasikan moto baiti jannati (rumahku surgaku) tak pelak lagi menjadi impian pasangan suami istri.

Komunikasi suami istri akhirnya menjadi bagian yang sangat penting. Sebuah studi terhadap 264 pasangan suami istri melaporkan bahwa unsur paling penting bagi kaum wanita –tetapi bukan bagi pria- dalam kepuasan akan hubungan mereka adalah adanya perasaan bahwa pasangan suami istri mempunyai komunikasi yang bagus. Dan sebaliknya , sebagianbesar ketidakpuasan perkawinan ternyata bersumber dari kegagalan berkomunikasi, demikian dilaporkan oleh Prochaska & DiClemente dari Texas Research Institute of Mental Sciences. Komunikasi tidak hanya berperan penting terhadap kebahagian atau keretakan keluarga tetapi juga mempunyai pengaruh-walaupun bukan sebagai the only factor- terhadap pendidikan anak.

Kebutuhan akan Komunikasi Kita menghabiskan sebagian besar jam jaga kita dengan berkomunikasi. Mengapa? Karena berkomunikasi sebuah kebutuhan .Dengan komunikasi kita mengekspresikan apa yang kita rasakan/pikirkan, dengan komunikasi kita memahami cara pandang pasangan kita, ikut merasakan kesedihan/kegembiraan anak kita, utamanya dengan komunikasi , kita saling bertukar informasi. Akan tetapi seringkali dalam kehidupan suami-istri , komunikasi lebih bertujuan untuk memenuhi kebutuhan psikis daripada informatif.

Ketika seorang suami menceritakan kisah masa kecilnya, boleh jadi semua informasi dalam noltalgianya itu sudah kita ketahui dengan jelas(karena begitu seringnya diceritakan), akan tetapi persoalannya bukan pada substansinya semata, persoalannya lebih kepada bagaimana meperhatikan dan diperhatikan, lebih kepada kebutuhan untuk didengar dan mendengarkan. Apakah kita telah menjadi pendengar yang baik?

Komunikasi Suami Istri Leslie Brody & Judith Hall yang meringkas penelitian tentang perbedaan2 emosi antara pria dan wanita mencatat bahwa anak perempuan lebih cepat trampil berbahasa, lebih cakap dalam mengutarakan perasaannya daripada anak laki2. Ratusan studi menemukan bahwa terdapat perbedaan emosi antargender dalam melihat suatu masalah. Sesungguhnya masalah2 seperti bagaimana mendidik anak2, berapa banyak utang atau berapa tabungan yang pas bagi pasangan bukanlah hal2 yang memperkuat atau menghancurkan sebuah perkawinan. Namun bagaimana pasangan tersebut membahas masalah2 yang tidak mengenakkan itulah yang lebih berpengaruh terhadap nasib perkawinan. Bagaimana membuka komunikasi hingga tercapai kata sepakat tentang bagaimana untuk tidak bersepakat merupakan kunci kelangsungan perkawinan.

Ketika ada masalah, kita masing2 cenderung berpikir kita melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bahwa kita obyektif. Akan tetapi kenyataanya tidak demikian. Kita melihat dunia bukan sebagaimana dunia adanya, melainkan sebagaimana kita adanya. Bahwa paradigma(cara kita melihat dunia) atau istilah lainnya persepsi adalah sumber sikap dan perilaku kita. Sikap mudah menyalahkan pasangan muncul lantaran perbedaan persepsi. Contoh sederhana masalah ini, misalnya suami menduga istri tidak setia,istri menyangka suami sudah bosan kepadanya. Komunikasi antara pasangan tersebut akan gagal (communication breakdowns) karena masing2 menafsirkan pernyataan orang lain dengan kerangka persepsinya. Ketika suami pulang terlambat dari kantor dan istri menyambut dengan gembira setelah cemas menunggu, karena persepsi di atas suami menganggap ucapan istrinya hanya kamuflase dari ketidak setiaannya dan berkata keras, "Ah bilang saja kamu tidak senang aku pulang cepat. "Istri pasti terkejut dan menduga suami mencari gara2 untuk menceraikannya.

Menyalahkan Pasangan Sikap menyalahkan pasangan (patner blaming) merupakan bentuk pertahanan diri, ketidakmauan dikoreksi atau karena ingin menunjukkan "jika aku bisa salah,sesungguhnya kamu juga sangat bisa salah, karenanya jangan salahkan aku." Atau istilah suami saya" saya memang salah, tapi kesalahanmu lebih besar,jadi aku lebih benar."(melegitimasi kesalahan).

Apa yang dipersalahkan bisa jadi memang tepat, tetapi bukan tidak mungkin apa yang dipersalahkan pasangan adalah perkara yang tidak salah, hanya kita belum melakukan tabayyun(mencari kejelasan), memandang perkara tersebut dari paradigma pasangan kita atau memang kita tidak mau mendengar bayan(penjelasan) yang disampaikan. Menyalahkan pasangan lebih dekat kepada tindakan menilai negatif pada pribadinya, bukan menunjukkan pada tindakan yang keliru secara spesifik. Oleh karenanya tindakan ini mudah menyulut kemarahan-tersembunyai atau terbuka- karena orang menjadi mudah tersinggung.

Ada kalanya kita tidak bermaksud menyalahkan , tetapi ditafsirkan sebagai sikap menyalahkan karena pasangan kita sedang sensitif emosinya, atau cara kita berbicara yang bisa menimbulkan efek kursif(memaksa). Misalnya: kita seharian capek mengasuh anak dan mendiamkannya dari kerewelan dengan seluruh kasih sayang. Suami kita tidak banyak tahu tentang apa yang kita kerjakan. Menjelang Isya' ia baru pulang , ketika kita sedang kecapekan sementara anak masih menangis. Anda sengaja membiarkannya dulu karena ingin menyelesaikan masak. Suami berkata"Seorang Ibu harus menyayangi anak, kalau ibu sendiri tidak mau memperhatikan apakah ia harus mencari perhatian dari ibu teman2nya. Cobalah kamu beri perhatian." Kalimat suami tidak salah sama sekali. Kesalahannya adalah waktu penyampaian dan tujuan penggunaannya yang tidak tepat. Walaupun kita menyayangi anak sepenuh hati , kita bisa merasa terpaksa saat memeluknya gara2 ucapan suami, bahkan kita bisa meledak pada anak "Diam kamu, kamu kenapa sih dari tadi nangis terus? Bapakmu yang seharian tidak menggendongmu , marah2 sama ibu gara2 kamu menangis. Ibu ini capek." Jika suami mendengar kalimat ini , kemarahannya bisa tersulut karena ia merasa tidak marah pada kita.Suami merasa kita menyalahkannya, sementara kita sebenarnya hanya ingin memberitahu bahwa kita menyayangi dan memperhatikan anak.

Saling Menyalahkan Komunikasi suami istri akan bertambah runyam jika keduanya sudah saling menyalahkan. Kebanyakan dari kita mudah sekali terpancing oleh sikap yang ditunjukkan oleh pasangan kita. Kita mudah mereaksi sehingga berbalas menyalahkan. Masing2 merasa sebagai pihak yang benar, sedang yang lain tidak mau mengerti,meskipun kita sebenarnya belum mencoba untuk saling terbuka dan saling memahami.

Sikap saling menyalahkan ini rentan terhadap percekcokan, bahkan menimbulkan sikap saling menyarang antar pasangan. John Gottman, ahli psikologi dari University of Washington melakukan analisis tentang perekat emosionl yang mengikat pasangan dan "karat2" yang dapat menghancurkan keluarga, menyatakan bahwa isyarat awal dari titik kritis adalah kritik tajam. Ketika kita tidak lagi mengeluh berdasarkan nalar tetapi kritik tajam terhadap pribadi pasangan kita, kita membuka serangan yang mempunyai pengaruh emosional yang merusak.

Perbedaan antara keluhan dan kritik pribadi amat sederhana. Dalam keluhan, istri secara spesisifik mengungkapkan apa yang membuatnya tidak senang dan mengkritik tindakan suami, bukan pribadinya, dengan menyatakan mengapa tindakan suaminya tidak menyenangkan." Ketika Mas terlambat menjemputku , aku jadi merasa bahwa Mas tidak memperdulikanku." Ungkapan tegas, tidak berang atau pasif ini jauh lebih efektif daripada kritik pribadi yang memaklumkan perang global terhadap pasangan. " Mas selalu mementingkan diri sendiri. Mas tidak pernah memperhatikan aku. Memang Mas egois." Kritik semacam ini akan membuat orang yang terkena merasa malu, tidak disukai, dipersalahkan dan tidak cakap-semuanya cenderung menimbulkan respons yang defensif daripada upaya untuk memperbaiki situasi.

Diam adalah Emas? Ketika komunikasi suami istri sudah pada taraf saling menyalahkan , masing2 akan memilih cara untuk menyelesaikan pertempuran dengan mekanisme bertempur atau kabur(hit or run). Yang paling sering terjadi adalah respons "bertempur", marah2 dengan adu teriak yang tidak ada gunanya. Tetapi tanggapan alternatifnya-"kabur"- dapat menjadi lebih berbahaya, terutama apabila "pelarian" itu adalah menarik diri ke arah diam seribu bahasa. Sikap diam adalah benteng terakhir . Orang yang melakukannya benar2 diam saja, caranya adalah menarik diri dari percakapan dengan respons yang ditandai oleh wajah tanpa ekspresi dan tak memberi tanggapan apapun. Sikap diam mengirimkan pesan yang kukuh dan membingungkan , mirip2 gabungan antara dinginnya sikap menjauh, merasa menang dan melecehkan. Kebiasan respons bersikap diam dapat menghancurkan kesehatan suatu hubungan, tindakan tersebut memutuskan semua kemungkinan untuk menyelesaikan perselisihan.

Tetapi sikap diam untuk menenangkan diri adalah suatu cara meredakan marah yang paling fisiologis(sesuai dengan fungsi tubuh). Ketika kita marah terjadi lonjakan adrenal yang memicu sikap untuk "bertempur". Menunggu habisnya lonjakan adrenal dengan mencari kondisi yang besar kemungkinannya tidak ada pemicu2 amarah lebih lanjut memberi kesempatan pada orang yang marah untuk dapat mengerem siklus meningkatnya pikiran jahat dengan mencari selingan yang menyenangkan.Dolf Zillmann, ahli psikologi dari University of Alabama menentang teori Katarsis(melampiaskan amarah) sebagai metode yang efektif untuk meredakan amarah. Melampiaskan amarah tidak ada, atau sedikit sekali hubungannya dengan meredakannya-walaupun terasa memuaskan.Bahkan Diane Tice menemukan bahwa katarsis adalah cara terburuk meredakan amarah. Cara yang lebih efektif adalah menenangkan diri terlebih dahulu , kemudian dengan cara yang konstruktif menghadapi pasangan kita untuk menyelesaikan perbantahan. Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar ketika kita marah , kita mengambil air wudhu-hal ini mungkin untuk menenangkan diri, memberi waktu bagi tubuh untuk menurunkan lonjakan adrenal-Wallahu 'alam.

Komunikasi Suami Istri dari Tauladan Kita Komunikasi adalah ketrampilan paling penting dalam kehidupan kita. Islam memerintahkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada sesama manusia, terlebih kepada pasangan hidup kita. Allah SWT berfirman di Al Qur'an surah Al Qoshosh: 77:

"Dan berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."

Rasulullah SAW mengajarkan: "Ucapkanlah (kata2) yang baik atau diamlah."

Kita biasanya berusaha untuk dimengerti terlebih dahulu, kebanyakan dari kita tidak berusaha untuk mendengarkan dengan maksud untuk mengerti lebih dahulu. Prinsip komunikasi yang efektif adalah semua pihak berusaha untuk mendengarkan secara empatik(mendengarkan dengan maksud untuk mengerti). Kita mungkin mendengarkan selektif(mendengar hanya bagian2 tertentu dari percakapan) atau mendengar atentif(memfokuskan energi pada kata2 yang diucapkan), sesungguhnya kedua cara tersebut mungkin mengabaikan atau bahkan tidak benar2 mendengarkan pasangan kita sama sekali

Rasulullah mencontohkan metode mendengarkan empatik ini ketika datang seorang pemuda yang minta izin untuk berzina.Jika kita perhatikan betapa jitu jawaban yang Rasulullah sampaikan untuk meredam gejolak si pemuda. "Sukakah kamu jika apa yang ingin kamu lakukan itu menimpa ibumu...adikmu...kakakmu", Tidak jawab pemuda tersebut. "Jika demikian ,maka orang lain pun tidak berbeda denganmu." SubhanaLLah. Islam memerintahkan umatnya untuk berbicara yang baik , maka ia juga memerintahkan mereka agar menjadi pendengar yang baik. Sabda Rasulullah SAW "Dengarlah baik2(perkataan) orang lain."

Rasulullah SAW adalah suami tauladan, jika kita dengar cerita rumah tangga beliau tentulah ingin kita hidup di masa beliau .Berbahagialah Aisyah yang suaminya tak pernah memberi perlakuan kepadanya kecuali yang baik, bahkan saat terjadi perselisihan. Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berselisih dengan Aisyah dan meminta Abu Bakar-ayah Aisyah- sebagai penengah. Ketika itu Rasulullah SAW berkata" Berbicaralah atau saya yang bicara." Aisyah menjawab dengan lantang "Berbicaralah Anda! Jangan mengucapkan yang tidak!" Mendengar perkataan itu Abu Bakar menampar muka putrinya hingga mulutnya mengeluarkan darah dan berkata:"Engkau ini memusuhi dirimu sendiri. Apakah beliau pernah mengucapkan yang tidak benar?" Maka Aisyah duduk berlindung di belakang Rasul yang mulia. Kemudian Rasulullah SAW bersabda "Kami tidak mengundangmu untuk melakukan ini. Kami tidak menginginkan tindakan seperti ini darimu. "Tidak ada yang tercela padaRasulullah tetapi betapa sulitnya meniru.

Komunikasi Suami Istri dan Pendidikan Anak Prof.Dr.dr. Hernomo Ontoseno Koesoemobroto , Kabag Sentra Pengobatan Keracunan RSUD dr.Soetomo Surabaya mengungkapkan hasil penelitian lembaganya bahwa sebagian besar pelaku bunuh diri yang dikirim ke SPK RSUD dr. Soetomo adalah perempuan yang memiliki sifat manja.

Apa yang menyebabkan anak menjadi manja? Sering kali sifat manja dihubungkan dengan kasih sayang yang berlebihan. Sehingga seringkali orang tua menjadi ekstra hati2 dalam memberikan kasih sayang, bahkan kadang bersikap keras yang tidak padatempatnya. Ketika ada yang seorang ibu merenggut anaknya secara kasar dari gendongan Rasulullah SAW lantaran malu karena anaknya pipis di pangkuan beliau, Rasulullah SAW bahkan menegur :" Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar itu?" Manja sebenarnya tidak berhubungan dengan banyak sedikitnya kasih sayang yang diterima anak. Rasulullah bahkan sampai memanjangkan sujudnya agar cucunya dapat puas menaiki lehernya saat bersujud. Tetapi Hasan dan Husain tidak menjadi cengeng dan manja, mereka bahkan menjadi pahlawan yang harum namanya .

Sikap manja –menurut hipotesa Mohammad Fauzil Adhim, mahasiswa Psikologi UGM,- lebih banyak berhubungan dengan komunikasi orang tua -anak. Secara sederhana komunikasi orang tua- anak ada dua macam yaitu komunikasi kepada anak( secara langsung, berupa nasehat, teguran, dsb) dan komunikasi bersama anak(komunikasi suami istri yang ikut didengar oleh anak). Gaya bicara istri yang merajuk manja dan berisi keluh kesah bisa membawa anak untuk cengeng dan manja. Misalnya : "Aduuh panas ya Mas. Kenapa sih kok panas ..." Dari cara pengucapan anak akan belajar cengeng dan manja, terlebih lagi isi keluhan membuat anak menghayati hidup sehari-hari sebagai beban, tidak mensyukuri karunia Allah, anak belajar memaknai rasacapek, ganjalan dsb sebagaimana ia mengidentifikasi dari orangtuanya. Tentu saja hipotesis ini adalah simplifikasi dari kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi sikap anak menjadi manja. Tetapi perlu kitacermati bahwa apa yang kita(baca: orang tua) lakukan,katakan adalah cermin pertama bagi anak unruk mengidentifikasi,belajar memaknai apa yang terjadi di sekelilingnya.

Wallahu 'alam.