Make your own free website on Tripod.com
Dicari: Suami Coleh!
28-08-2000 18:20:09 eramuslimcom ,

Jangan salah tafsir dulu membaca judul di atas.  Kalimat
itu bukan dinisbatkan pada ucapan anak kecil yang baru mulai belajar
bicara, mengucapkan "soleh" jadi "coleh". Kata "coleh" yang dimaksud
adalah singkatan macho dan saleh.
Ada pertimbangan penulis ketika memilih judul itu. Pertama, orang
seringkali berasumsi membincang suami saleh seolah melulu berdimensi
keagamaan. Artinya suami saleh adalah suami yang ibadahnya kepada Allah
rajin. Puasa Senin-Kamis, minimal sebulan sekali tidak pernah bolong.
Pun demikian soal salat malam, nyaris tak pernah absen. Minimal sekali
per dua pekan.  Sementara ia tak pernah mau peduli dengan tugas-tugas
kerumahtanggaan isterinya di luar tugas mendidik anak-anak.
Kedua, suami saleh seakan dipandang sebagai seorang ahli agama yang tak
perlu mengurusi soal-soal kesehatan, kebersihan dan kepantasan. Minimal
untuk kepantasan performa diri. Dengan kata lain, sering dianggap
kesalehan itu sama sekali tak terkait dengan soal-soal kejantanan dan
estetika. Sehingga ia tak perlu mempedulikan aspek kekuatan (olah raga)
dan keindahan diri.
Padahal Rosulullah berpesan, "Muslim yang dicintai Allah adalah Muslim
yang kuat!" Di samping itu, bukankah Allah itu indah dan mencintai
keindahan? Jelas pesan di atas bukan semata-mata berorientasi pada
perintah persiapan jihad. Tapi ia (pesan itu) memang menjangkau juga
aspek rumah tangga. Agar suami yang kuat nyaman dipandang dan tentu bisa
memberi kebahagiaan pada pasangannya dalam hubungan suami-isteri.
Ketiga, tak sedikit orang berasumsi konotasi suami saleh adalah
orang-orang yang pasif. Ia adalah suami yang selalu menunggu layanan
dari isteri, tidak berinisiatif melayaninya. Ia seakan selalu meminta
untuk dicinta, bukan memberi cinta kepada isterinya. Ia seolah menempati
posisi raja yang harus ditaati perintahnya, bukan mitra bagi isteri dan
anak-anaknya. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Paling tidak, ketiga asumsi yang keliru itu kita akan coba luruskan.
Jika yang dimaksud saleh pengertiannya adalah taqwa, maka kita tau,
tidak ada manusia paling bertaqwa di dunia, kecuali Rasulullah saw.
Track record Nabi saw soal keterlibatannya dalam urusan pekerjaan rumah
tangga, sungguh luar biasa.  Aisyah pernah ditanya: "Apakah yang
dikerjakan Rasulullah saw kalau di rumah?" Ia menjawab: "Beliau saw
sebagaimana kebanyakan manusia lain, menjahit terompahnya, menambal
pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan apa yang biasa
dikerjakan oleh orang lelaki. Baru bila tiba waktu salat, beliau
keluar." (HR. Bukhari)
Rasulullah juga amat baik perhatiannya dalam urusan belanja isteri.
Sehingga tidak pernah beliau membiarkan isterinya berhutang pada orang
lain. Seharusnyalah, suami taqwa (saleh) mampu memberi belanja yang
cukup dan menjaga diri isteri agar tidak meminta-minta atau tidak
menggantungkan urusan keluarganya pada orang lain.
Suami saleh adalah suami yang mandiri, baik secara sikap maupun
finansial. Ia tidak akan mengadukan kesulitannya pada seseorang,
sekalipun kepada orangtuanya atau keluarganya. Ia tetap menjaga dirinya
dengan baik, walaupun dalam keadaan kesulitan, sehingga orang lain
menganggap dia orang yang tidak berkekurangan.
Selanjutnya, dalam hal kejantanan Rasul? Jangan ditanya. Sejak awal
bahkan Nabi selalu mengingatkan agar para orang tua mengajarkan
anak-anak mereka memanah, menunggang kuda, dan berenang. Semua jenis
olahraga ini, terang membutuhkan keberanian dan kekuatan, yang
konotasinya adalah kedigjayaan (kejantanan). Karena itu hampir tak
pernah dicatat oleh sejarah, Rasul mengalami sakit serius.
Concern Nabi dalam memelihara kekuatan diri, barangkali terindikasi dari
kisah berikut. Diriwayatkan, dalam memberikan pelayanan kebutuhan
seksual isterinya, Nabi ternyata melakukannya dengan sangat baik,
menarik, dan menggairahkan isterinya. Rosulullah saw dalam kaitan hal
ini berpesan;
"Cucilah pakaianmu, pangkaslah rambutmu, bersiwaklah, berhiaslah dan
bersihkanlah dirimu. Karena sesungguhnya Bani Israil tidak pernah
berbuat seperti itu, sehingga wanita-wanita mereka suka berzina."
Bahkan dalam hadist berikutnya Nabi berpesan;
"Jika seseorang di antara kamu bersenggama, hendaklah ia lakukan dengan
kesungguhan. Kemudian, kalau ia telah menyelesaikan kebutuhannya (puas)
sebelum isterinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru
mencabut (penisnya) sampai isterinya mendapatkan kepuasan." (HR
Abdurrazaq dan Abu Ya'la, dari Anas).
Banyak riwayat menyebutkan betapa sikap romantisme Rosul kepada seluruh
isteri-isteri beliau. Kepada Aisyah misalnya, beliau selalu memanggil
dengan sebutan "Ya Humairoh" (artinya si Pipi Merah). Begitupun ketika
Rasul menghadapi isteri beliau di di tempat tidur. Ternyata beliau tetap
menjaga kebersihan, kejantanan, dan kehalusan, sehingga mampu merangsang
isterinya untuk dapat menikmati kebahagiaan bersuami.
Sebaliknya, beliau sangat mengecam para suami yang jorok dan tidak rapi
pada saat bercumbu dengan isterinya. Sehingga menyebabkan isteri mereka
muak dan bosan, sampai-sampai akhirnya (na'udzubillah) mereka melirik
lelaki lain.
Jadi? Ya tentu saja tidak pantas suami yang dekil, kumel, apalagi loyo,
disebut suami saleh. Sebab sifat-sifat tersebut di atas (dekil, kumel,
dan loyo) adalah ciri performa para lelaki Yahudi, alias tidak nyunah.
Setelah mengulas singkat sikap empati suami pada tugas-tugas isteri.
Kemudian kita menyoroti juga soal kemandirian sikap dan kemampuan
mencukupi nafkah keluarga yang harus dipenuhi seorang suami saleh.
Begitupun soal keperkasaan yang harus diperhatikan seorang suami. Maka
aspek terakhir yang tak kalah penting kita soroti adalah soal sikap
kepemimpinan suami terhadap isteri.
Seorang suami saleh, jelas bukan pemimpin perusahaan apalagi menganggap
diri sebagai seorang raja diraja. Ia hakikatnya merupakan mitra ibadah
bersama isterinya. Tentunya sifat-sifat otoritarian tak ada dalam kamus
kehidupan seorang suami saleh.  Yakni sikap memaksa isteri dan
anak-anaknya harus taat pada perintahnya, serta menghukumnya jika
melanggar.
Syahdan, Aisyah dan Hafsah (isteri-isteri Rosulullah saw) pernah membuat
mosi minta kenaikan uang belanja. Tapi Nabi tidak memperkenankannya,
hingga membuat mereka melakukan aksi protes. Kelakuan para isteri Nabi
sempat tembus ke telinga orangtua mereka. Kedua mertua Nabi, Umar dan
Abu Bakar (semoga Allah merahmati mereka), segera bertandang ke rumah
Nabi untuk memarahi anak-anak mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan kisah itu dari Jabir, ra, katanya;
Abu Bakar datang meminta izin kepada Rasulullah saw untuk menghadap.
Saat itu Nabi sedang duduk, dan orang-orang bergerombol di depan pintu
rumah beliau. Namun Abu Bakar tidak diizinkan masuk. Lalu datang Umar
bin Khattab. Tapi ia juga tidak diizinkan masuk. Setelah beberapa saat,
baru mereka diizinkan masuk oleh Nabi. Lalu keduanya masuk, sedang
Rasulullah saw duduk diam. Para isteri beliau duduk di sekitarnya.
"Aku akan berkata kepada Nabi, yang bisa jadi akan membuat beliau
tertawa," kata Umar. Lalu ia melanjutkan, "Wahai Rasulullah andaikan aku
melihat puti Zaid yang kemudian menjadi isteri Umar meminta nafkah
kepadaku, niscaya sudah kupukul lehernya."
Mendengar ucapan Umar, beliau saw tertawa hingga gigi gerahamnya
kelihatan. Lalu beliau bersabda, "Mereka yang ada di sekitarku ini (para
isteri beliau-pen) juga meminta nafkah kepadaku."
Kontan Abu Bakar serta Umar bangkit menuju ke tempat Aisyah dan Hafsah.
Mereka berdua berkata, "Kalian berdua meminta sesuatu yang tidak
dimiliki Rasulullah." Rasulullah saw segera melerai dan melarang Abu
Bakar dan umar.
Para istri beliau pun berkata, "Demi Allah, sesudah itu kami tidak akan
meminta kepada Rasulullah apa-apa yang tidak dimilikinya."
Sesaat kemudian kepada Aisyah, Rosulullah saw berkata, "Aku mengingatkan
kepadamu satu hal yang lebih disenangi bila kamu mengharapkannyya dengan
segera, sehingga kamu dapat berkonsultasi dengan kedua orangtuamu."
"Apa itu?" tanya Aisyah. Kemudian beliau membacakan surat Al Ahzab ayat
28-29.
"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: "Jika kalian menginginkan
kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya segera kuberikan
mut'ah, dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kalian
menginginkan keridhoan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri
akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa saja yang
berbuat baik di antaramu, pahala yang besar."
"Apakah engkau mengira aku masih akan meminta saran kepada kedua orang
tuaku? Aku memilih Allah dan Rasul-Nya. Aku juga memohon, janganlah
engkau memberitahukan pilihanku ini kepada salah seorang di antara
istrimu," jawab Aisyah.
"Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang bengis. Ia
mengutusku sebagai pendidik dan memberi kemudahan," sabda Nabi saw
(dikutip dari sumber yang sama).
Kalau boleh kita konklusi uraian singkat di atas, maka rumus suami saleh
ialah paling tidak ia harus "coleh"-macho dan saleh.  Yakni jasmaninya
prima, karena senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Dengan
begitu ia akan selalu giat beribadah, bekerja mencari nafkah, dan prima
juga dalam melayani isteri. Di samping tentunya tak kalah urgen, ia
harus menjadi orang yang sabar dan lembut terhadap keluarga, serta
kepada siapapun tentunya.
Nah, tipikal suami seperti di ataslah yang kini sedang atau memang sulit
dicari. Ayo, siapa yang bisa memenuhi kriteria suami coleh? (stn)