Make your own free website on Tripod.com

Rumah Sebagai Basis Pendidikan

Jelas, bahwa orang tua tak bisa menghindarkan diri sebagai pemikul utama penanggung jawab pendidikan anak. Hal ini adalah tugas keluarga. Lembaga pra sekolah dan sekolah hanya berperan sebagai partner pembantu.

Tugas penting orang tua ini akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Tugas berat, memang. Tetapi ada banyak cara untuk melakukannya.

Rumah sebagai basis pendidikan akan dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :

Melengkapi fasilitas pendidikan

Selain perabot rumah tangga, apalagi fasilitas rumah tangga yang harus diprioritaskan kalau bukan fasilitas penunjang pendidikan ? Bukankah tugas mndidik anak adalah tugas utama keluarga ? Yang untuk mencapai keberhasilan, mutlak dibutuhkan dukukngna dari lingkungan.

Fasilitas-fasilitas tersebut antara lain :

1. Tempat belajar yang menyenangkan

Sama sekali tidak harus mahal. Seperangkat meja kursi sederhana dilenmgkapi dengan rak buku sudah bisa diciptakan sebagai meja belajar. Untuk menciptakan suasana yang menyenangkan penataannya harus disesuaikan denga kebutuhan anak.

Misalkan, anak-anak suka beragam warna dan gambar yang menarik dan lucu. Beri kesempatan mereka memilih atau nenbuat sendiri hiasan di sekitar tempat belajarnya. Ajaklah anak untuk kreatif merancang hiasan ini dari bahan-bahan yang tersedia, sehingga tak harus membeli perhiasan yang mahal-mahal. Lebih baik lagi jika disediakan tempat khusus untuk memajang hasil karya mereka.

Kalau bisa, harus ada tempat belajar khusus untuk masing-masing anak. Dan beri kebebasan serta tanggung jawab kepada mereka untuk mengurus meja belajarnya masing-masing. Yang perlu dingat, peran orang tua diperluka agar tempat belajar ini tetap menyenangkan bagi anak. Bantulah mereka mengrusnya sesekali intuk memberi pengarahan yang benar.

Semakin baik dan menarik keberadaan fasilitas pendidikan yang satu ini, anak akan merasakan bahwa kegiatan belajar adalah salah satu hal yanng istimewa dalam keluarga. Selanjutnya ini akan semakin memotivasi belajarnya.

2. Media Informasi

Ilmu pengetahuan tak bisa dilepaska kaitannya dengan media informasi. Karena dari sisnilah sebagian ilmu pengetahuan akan diperoleh. Maka untuk mengakrabkan anak pada bidang pendidikan, tidak bisa tidak harus terlebih dahulu mengakrabkan mereka kepada media-media informasi ini.

Media-media ini bisa berupa televisi, radio, komputer, buku dan majalah.Seperti layaknya setiap media, informasi yang disediakan tidak semuanya dibutuhkan oleh anak. Bahkan ada yang cenderung merusak anak. Itu sebabnya tindakan seleksi perlu dilakukan orang tua.

Televisi, misalnya, apabila orang tua ingin memanfaatkannya sebagai media informasi pendidikan bagi anak, maka harus konsekwen dengan hanya memutar acara-acara yang menunjak pendidikan saja. Acara hiburan boleh diberikan hanya sebatas sebagai refreshing, tidak berlebih-lebihan. Tindakan ini perlu dilakukan, karena jika sejak awal sudah terbiasa memanfaatkan media-media ini hanya untuk kebutuhan bermain dan senang-senang semata, maka untuk selanjutnya fasilitas ini menjadi tidak berfungsi sebagai media pendidikan lagi.

3. Perpustakaan

Minimal ada buku-buku yang dikoleksi. Karena untuk menumbuhkan motivasi pendidikan anak, buku adalah sarana yang paling tepat. Kecintaan anak terhadap buku mutlak harus ditumbuhkan sedini mungkin. Dan rumah adalah tempat yang paling cocok untuk keperluan itu.

Alhamdulillah jika di dalam rumah bisa disediakan sedikit tempat untuk perpustakaan ini. Kesannya ke dalam hati anak akan lebih jauh mendalam daripada sekedar minjam-minajam buku dari teman. Memiliki koleksi buku sendiri, bagi anak akan sangat membanggakan. Jika orang tua mampu menyisihkan anggaran rutin bulanan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak ini, tentu koleksi anak akan terus bertambah, sehingga untuk mewujudkan perpustakaan mini tidak kesulitan.

Penataan dan perawatan yang baik terhadap buku-buku ini akan menunjang keberadaan fasilitas ini. Buku sederhana dan bekas pun akan menarik jika disampul yang rapi dan bersih. Dan semakin istimewa orang tua memberikan perhatian terhadap kolesi buku anak-anak ini, semakin anak-anak menghargai pula keberadaan perpustakaan mini mereka. Bagi keluarga yang mampu menyediakan buku-buku referensi dan enxiclopedia anak akan semakin menyemarakkan perpustakaan. Asal saja, keberadaan buku-buku yang mahal-mahal ini tidak sekedar sebagai pajangan belaka.

4. Budaya Ilmiah

Setelah fasilitas tersedia, yang diperlukan berikutnya adalah pembentukan budaya ilmiah dalam rumah. Maksudnya, pembentukan prilaku dan pembiasaan dari anggota-anggota keluarga yang menunjang visi pendidikan. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

4.1. Budaya Islami

Satu-satunya cara terbaik untuk memberikan pendidikan keimanan, nilai-nilai moral, adalah dengan teladan langsung. Ajaran tentang dzikir kalimat thayyibah, shalat, kejujuran hingga mencintai Al QurŽan sangat mudah diajarkan jika orang tua langsung mempraktekkannya. Maka tanpa harus banyak memberi nasehat dan mengingatkan, anak akan secara langsung mencontoh.

Menanamkan kebiasaan shalat dan mengaji Al QurŽan, kebiasaan membaca doa sehari-hari maupun hafalan surat-surat pendek, tak lagi memerlukan satu waktu yang dialokasikan khusus untuk itu. Tetapi sudah langsung diterapkan disela-sela kegitan hidup sehari-hari. Maka, bagi orangtua yanhg sesibuk apapun, tetap memiliki kesempatan untuk memberikan pendidikan keimanan kepada anak-anaknya. Jadi, tak ada alasan untuk melimpahkan urusan pendidikan keimanan ini ketangan pihak sekolah semata.

4.2. Budaya Belajar

Yang harus belajar bukan hanya anak-anak. Justru orang tua dan anggota keluarga lain memberikan teladan. Setiap harinya, orang-orang ini pun harus belajar sebagaimana mereka mengharapkan anak-anak mereka mau belajar tiap hari pula.

Orang dewasa harus menunjukkan kapada anak-anak, bahwa mereka pun gemar belajar. Materi apa yang dipelajari, tergantung kebutuhan masing-masing. Ayah mempelajari buku-buku ekonomi, ibu mempelajari buku fiqih Islam, misalnya. Harus diluangkan waktu walaupun hanya seperempat jam bagi orang tua untuk mencontohkan budaya belajar ini.

Gairah orang tua untuk terus belajar inilah yangakan dicontoh anak. Sehingga, tanpa disuruhpun, anak akan senang mencontoh mereka belajar. Sebaliknya, jika orang tua tak pernah menunjukkan aktifitas belajar, tetapi senantiasa menasehati anak untuk rajin belajar, itu hanyalah omong kosong, tak akan mendapat perhatian anak-anak.

Jam Baca

Membudayakan jam baca pun sangat baik untuk dilakukan. Bisa diserempakkan waktunya untuk selurauh anggota keluarga. Alternatif lain, jam baca ini bisa difleksibelkan waktunya, tidak harus bersama-sama, hanya ditentukan durasi waktunya setiap harinya.

Konsekwensinya, harus ada fasilitas buku-buku yang memadai untuk dibaca. Jangan sampai anak menjadi bosan dan terpaksa membaca apa yang tak ia butuhkan dan tak ia sukai. Untuk keperluan ini baik sekali jika mengajak anak rutin berkunjung ke perpustakaan untuk meminjam buku, sehingga koleksi bahan bacaan pun menjadi beragam dan menarik.

Tujuan penetapan jam baca ini bukan untuk mamaksa anak untuk belajar, tetapi untuk menumbuhkan minat baca mereka. Itu sebabnya harus dihindari pemaksaan. Beri kesempatam mereka untuk memilih buku apa yang akan mereka baca. Jangan paksa untuk membaca buku pelajaran sekolah. Dan bagi yang belum lancar membaca, kegiatan ini bisa dipandu oleh orang tua. Bentuknya tidak harus pelajaran membaca. Tetapi sekedar ‚membaca gambar dari buku-buku yang ada.

Gairah Cerita

Sudahkah orang tua membacakan cerita kepada anak-anaknya setiap hari ? Kegiatan ini meiliki manfaat yang sangat besar sekali. Sekaligus wahana meluaskan cakrawala berfikir anak, sebagai media bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai moral, meningkatkan kecintaan anak terhadap buku, dan memelihara rasa keingintahuan mereka.

Kalau pada kegiatan membaca anak diberi kesempatan memilih sendiri buku-buku bacanya, maka saat bercerita ini orang tualah yang berkesempatan memasukkan nilai apa yang dinginkan. Untuk sarana pendidikan keimanan, budaya bercerita ini akan sangat tepat sekali. Jika anak menjadi gelisah ketika suatau malam orang tua tak sempat bercerita, itu mendakan keberhasilan menumbuhkan gairah mereka untuk mendengarkan cerita.

Gairah Rasa Ingin Tahu

Bukankah pendidikan identik dengan pemenuhan kebutuhan rasa ingin tahu anak ? Jika anak sudah tidak memiliki gairah rasa ingin tahu lagi, mereka akan cenderung menolak menerima pendidikan itu. Maka, menumbuhkan budaya ingin tahu didalam rumah adalah penting sekali.

Rasa ingin tahu anak akan terpancing jika mereka menerima informasi yang menarik. Orang tua bisa mengupayakan hal ini menggunakan sarana media informasi. Bisa diperkuat lagi lewat pancingan-pancingan yang diberikan orang tua.

Sebenarnya, setiap bayi terlahir dengan berbekal rasa ingin tahu yang amat besar. Selanjutnya mereka berkembang menjadi anak yang ingin serba tahu. Pertanyaan tentang segala sesuatu yang mereka temui seakan tak pernah berhenti mengalir. Fitrah ini penting untuk dipelihara dan diarahkan. Dengan kesabaran orang tua untuk terus menjawab pertanyaan anak, memancinya dengan pertanyaaan baru, inilah yang akan mempertinggi gairah rasa ingintahu anak.

Khatimah

Maka, didalam rumah yang telah berhasil menjadi basis pendidikan, akan tercipta suasana pendidikan yang khas didalamnya. Dimana segala sesuatu yangn berhubungan dengan pendidikan akan disitimewakan dan dihargai tinggi. Walaupun ini memerlukan dana besar, sungguh ini merupakan investasi yang sangat berharga bagi masa depan anak-anak.

Orang tua yang tahu akan kewajibannya, tak akan lalai dalam melakukan hal ini. Dan sangat perlu disadari bahwa fungsi rumah sebagai basis pendidikan ini tak akan pernah bisa tergantikan oleh sekolah. Salah besar jika orang tua merasa urusan pendidikan telah selesai di sekolah, karena anak belajar dari pagi sampai sore, misalnya, kemudian dirumah tinggal berkomuikasi dan bersantai bersama keluarga tanpa diberi bobot nilai kependidikan.

Tugas pendidikan anak yang utama tetap dipegang oleh keluarga. Berat,memang, teruama bagi mereka yang termasuk keluarga sibuk. Tetapi Insya Allah, dengan upaya maksimal menciptakan rumah sebagai basis pendidikan ini akan banyak menolong.