Make your own free website on Tripod.com
Ketika Suami Istri tak Lagi Romantis
Apa yang akan terjadi?

Surabaya, 27 Juli 2000, 07.07 WIB

“Masak kamu nggak ngerti perasaanku, siih? Masak aku harus selalu ngomong apa yang aku inginkan? Huuuh, sebel. Kamu memang nggak cinta padaku.” Pembaca budiman, pernahkah Anda berseteru dengan pasangan dan mengucapkan kalimat seperti di atas?

Berseteru? Wajar. Jangankan kita, Umar bin Khatab ra saja juga bertengkar dengan istrinya. Bahkan para istri Nabi saja pernah menuntut kenaikan uang belanja. Yang harus kita pelajari dan tiru adalah bagaimana mereka bisa mengelola perbedaan pendapat itu agar tidak berujung pada percekcokan berkelanjutan bahkan perceraian. Sebaliknya, perbedaan dan pertengkaran yang terjadi bisa dikelola secara baik dan Islami. Gimana caranya, ya?

Para ahli psikologi juga mengatakan bahwa tumbuh kembang cinta itu mengalami pasang surut. Siklus alamiah selalu terjadi dalam relasi hubungan suami istri. Siklus cinta pada umumnya membutuhkan waktu tiga tahun, mulai dari romantis, renggang hingga terbangun kembali hubungan yang romatis.

Pembaca budiman, mungkinkah cinta itu bisa abadi? Bak Rama dan Shinta atau Romeo dan Juliet? Atau apakah sebenarnya cinta sejati itu? Mungkinkah suasana romantis suami istri itu bisa selamanya terjaga, selamanya indah dan bahagia? Tanpa percekcokan menyakitkan hati apalagi perceraian? Ah, teori. Buktinya, perceraian di Pengadilan Agama Surabaya saja setiap harinya rata-rata ada 4 kasus.

Pembaca budiman, Al Falah kali ini mengajak Anda untuk memikirkan hal itu, yaitu bagaimana menjaga romantisme sekaligus mengantisipasi pasang surutnya cinta agar terbangun keluarga bahagia, sakinah ma wadah wa rahmah. Apa saja kiatnya agar perbedaan dan pertengkaran bisa dikelola secara positif. Bagaimana pula cara menumbuhkan kembali suasana romantis yang mungkin sempat hilang entah kemana?

“MENDENGAR suaranya, jantung saya berdebar kencang, lutut saya rasanya turut bergetar. Apalagi ketika melihat ia berjalan mendekatiku selepas akad nikah, rasanya saya hidup di tengah taman surga, gelombang kebahagiaan menyiram sekujur tubuh saya. Sekian tahun lamanya semuanya terasa begitu indah,” cerita Alifa dengan mata berbinar, ”tetapi .... kini semuanya seolah menguap entah kemana. Aku jadi sangsi, apakah cinta sejati itu ada?” Mata Alifa kini menerawang, iapun mulai sesenggukan.

Saat Cinta Mulai Surut
Apa Yang Sebaiknya Dilakukan?

“Rasa-rasanya saya sudah tidak cinta lagi. Dia tidak lagi seperti yang saya dambakan. Gairah cinta saya hilang berganti kebencian. Percuma saja perkawinan ini dipertahankan …”

Pembaca budiman, apa yang sebenarnya terjadi? Apa pula penyebabnya? Entahlah, sulit dilukiskan. Akan tetapi sebuah penelitian yang dilakukan terhadap suami istri menunjukkan, komunikasi yang buruk adalah sebab utama masalah perkawinan. Tentunya ada penyebab-penyebab lain yang turut mempersurut romantika cinta suami istri.

Kejelian dalam mengenali gejala-gejala penyebab surutnya cinta akan sangat membantu pencegahan dan terapi atas kerenggangan hubungan suami istri yang terjadi. Apa saja sebab surutnya cinta ? Bagaimana mengatasinya?

Salah Pandang tentang Perkawinan

Banyak pasangan menganggap, dalam perkawinan yang baik, sepasang suami-istri bergabung menjadi satu, segalanya harus sama, dan masing-masing dianggap pasti tahu isi hati pasangannya, walau tidak diungkapkan.

Ketika ternyata selera, sifat dan karakternya berbeda, iapun kecewa. Contohnya Hermin, yang periang dan suka ngobrol, sementara Herman, suaminya lebih suka membaca. “Mas, stop bacanya, dengerin aku. Ada masalah, nih. Kamu memang payah, nggak mau dengerin aku. Coba kalau yang ngajak ngobrol si Leni yang di kantormu itu, huuuhh, pasti langsung denger, kan!”

Melihat bukunya ditutup paksa sama istri, Herman langsung berdiri keluar kamar: “Buat apa mendengarkan kamu, teriak-teriak seperti orang gila.”

Melihat itu, kemarahan Hermin naik sampai ubun-ubun. Dan ‘tabungan emosi’ -nya yang selama ini disimpan tak pelak langsung meledak. Dar...darr… daarrr!! Luapan kemarahanpun merembet lalu mengungkit segala masalah yang selama ini disimpan sendiri.

Jadi ada dua hal yang mestinya direnungi, apakah untuk bisa bahagia itu semuanya harus sama, padahal taman bunga itu indah justru karena ragam warna-warninya? Jadi, perbedaan bukan penyebab masalah, justru bagaimana menyikapinya, itulah masalah yang harus dipecahkan.

Kedua, hindarilah menabung emosi. Alangkah baiknya jika setiap kali ada ‘perasaan’ di hati (kecewa, mangkel, tidak setuju, nggak sreg) segera diungkapkan secara langsung, tenang, dewasa dan konstruktif. Jangan ditabung. Jangan pula menganggap pasangan pasti tahu walau tidak diberitahu.

Ia Milikku !

Mengapa ya, kebanyakan orang cenderung memperlakukan pasangannya agak semaunya tanpa mempertimbangkan perasaan, beda sekali dengan perlakuan terhadap teman atau sahabat?

Kebanyakan kita menganggap jika sudah ‘berhasil’ menjadikan seseorang sebagai istri/suami berarti ia sudah menjadi milikku. Selesai! Nggak perlu lagi berhati-hati, menghormati apalagi memberikan perhatian istimewa kepadanya seperti sebelumnya. Ala kadarnya sajalah…

Kalau sebelumnya, setiap Yanti bicara selalu halus, mendengar penuh perhatian, jika akan bertemu selalu pakai baju terbaru dan parfum terbaik, sekarang kala Yanto sang suami datang, Yanti tetap saja pakai baju dapur bau kompor. Begitupun Yanto, kalau di awal pernikahan dulu setiap kali pulang selalu bawa hadiah atau kejutan-kejutan kecil, kini ia pulang berwajah payah baju kusut. Yang dihadiahkan ke istripun keluh kesah seputar kerja melulu.

Sadarilah bahwa ia bukan ‘milikku’, ia justru adalah amanah dan tanggung jawabku di hadapan Allah. Ikatan suami istri adalah ikatan yang amat kuat, bobotnya disetarakan dengan ikatan perjanjian antara Allah dan para Nabi ulul azmi. Dengan demikian ‘saya’ tidak berhak menyakiti, menyusahkan, sebaliknya saya harus membimbing, membahagiakan dan menghormatinya sebagai amanah Allah.

Seribu Kebaikan Hilang oleh Satu Kesalahan

Fathonah selama ini selalu menyambut Fathoni suaminya dengan senyum ramah, melepaskan sepatu, siapkan mandi, lalu makan minumpun terhidang rapi dan indah. Tak lupa Fathonah selalu menghiasi rumahnya dengan lantunan lagu-lagu Islami atau ayat suci penyejuk hati. Segala kepenatan Fathoni, sang suami-pun berganti sejuk dan teduh di rumah bersama Fathonah.

Namun sore itu, Fathonah lupa mengisi bak mandi. Ia hanya memberikan handuk dan baju ganti kepada sang suami. Tatkala Fathoni masuk kamar mandi, ia dapati bak mandi tak berisi. Sudah lelah, dibikin marah, muntablah Fathoni, ditudinglah Fathonah ini dan itu. Ribuan kebaikan Fathonah hilang sudah, berganti marah dan serba salah.

Sejak itu, hubungan menjadi tegang, Setiap komentar dan tindakan selalu bernada negatif, dikit-dikit emosi lalu bertengkar, sulit melihat sisi positif, tegang dulu sebelum bicara, semakin lama bahkan semakin dingin dan mudah tersinggung. Jika ini tak segera dibicarakan baik-baik, ia akan menjadi bom waktu yang bisa meledakkan bangunan perkawinan sewaktu-waktu.

Segalanya Akan Beres Asal Ia Mau Berubah!

Setiap kali mengalami krisis cinta, masing-masing cenderung berpikiran bahwa “saya adalah saya”. Dan betapa bahagianya saya seandainya ia mau berubah, begitu impian masing-masing. Kata-kata yang sering diucapkan adalah ‘saya’ atau ‘kamu!’. Jarang mengucapkan ‘kita’ apalagi ‘kita berdua’.

Masing-masing gemar melimpahkan kesalahan pada pasangannya. Kamu memang selalu……kamu tak pernah sekalipun…..dasar kamu memang nggak bertanggung jawab….Yang muncul selalu emosi dan tuduhan sementara faktanya atau kasusnya dan alasan atau argumentasinya justru jarang diungkapkan. Akibatnya problemnya malah nggak dibahas apalagi diselesaikan bersama.

Padahal kalau ‘saya’ mau melakukan perubahan kongkrit sedikit saja, setelah terjadi pertengkaran, niscaya akan membawa sentuhan dan perubahan besar pada pasangan Anda. Misalnya, setelah hubungan tetap tegang walau sudah dua hari, Nining berusaha menghidangkan teh dan kue di pagi dan sore hari untuk suami, sementara Nanang mau meluangkan waktu untuk bersih-bersih rumah atau menata ulang tata letak perabotan rumah tangga agar selalu tampak baru. Kalau masih canggung untuk bertegur sapa, nggak usah dulu nggak apa-apa, yang penting tunjukkan lewat perbuatan. Insya Allah susana krisis akan segera berganti romantis.

Tak Yakin Bisa Dibereskan

Ketika krisis sudah pada tingkat pesimis bahwa masing-masing sudah patah arang, tak yakin perkawinan bisa diselamatkan maka ini sudah sangat berbahaya. Jika tidak segera dibangun saluran komunikasi, makin hari akan makin rumit. Apalagi jika mulai melirik pihak ketiga, awalnya sekedar sebagai curahan hati, lama-lama mulai menyimpulkan bahwa Joni temanku lebih bijaksana dari suamiku, atau si Lena lebih bisa mengerti keinginanku. Syetanpun bersorak gembira.

Namun cobalah sedikit merenung, bukankah sebenarnya masing-masing punya tujuan yang sama? Ingin rumah tangga bahagia? Bukankah pertengkaran itu terjadi karena masing-masing sebenarnya ingin bahagia, meski menurut persepsi dan kepentingan sendiri-sendiri. Karena hakekat tujuannya sama, cobalah tenang sejenak. Kalau sedang marah jangan terus berdiri, kata Nabi saw segeralah duduk, syukur segera basahi wajah dengan air wudlu kemudian renungilah semuanya dengan tenang.

Memahami Seutuhnya

Laksana gunung, dari jauh nampak begitu dekat dan indah. Namun begitu didekati dan didaki, terlihatlah bagian-bagian yang gersang, curam bahkan berbahaya. Begitupun Tono dan Tini. Dulu semuanya begitu sempurna dan menawan. Tercantik dan tertampan di seluruh dunia. Namun lima bulan kemudian, semuanya begitu jelek, bodoh dan menyebalkan. Serba kalah dibandingkan teman di kantor atau tetangga sebelah.

Setiap orang punya lebih dan kurang. “Jika Anda benci terhadap sebagiannya, ada bagian lain yang menyenang-kan,” begitu kata Nabi diriwayatkan oleh Muslim.

Nabi juga mengajar-kan, begitu akad nikah terjalin, segeralah sang pengantin shalat dua rakaat lalu berdo’a bersama-sama: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan kebaikan istri/suamiku dan kebaikan watak serta perangai yang Engkau berikan padanya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan dari kejelekan watak dan perangai yang Engkau berikan padanya.” (HR. Bukhari dan Abu Daud). Bukankah Allah swt juga berfirman bahwa suami istri itu ibarat pakaian dimana satu sama lainnya saling melindungi dan saling memperindah?

(age)